Skip to content

Hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Memakai Google Cloud Firestore

Salah satu alasan utama saya melirik database serverless seperti Firestore adalah biaya. Harga sebuah droplet di Digital Ocean paling murah adalah $5 per bulan. Sementara dengan Firestore, pada proyek prototype dan sederhana, saya tidak perlu membayar bila aplikasi tidak digunakan. Setelah puas menerapkan Firestore pada aplikasi sederhana, saya pun mencoba menggunakannya untuk sesuatu yang lebih serius seperti aplikasi bisnis. Seperti biasa, semua tidak pernah semulus apa yang saya bayangkan. Berikut ini adalah beberapa hal yang saya berharap sudah saya ketahui sebelum memutuskan untuk menggunakan Firestore pada sesuatu yang lebih serius:

Import data lama membutuhkan biaya besar

Hal ini cukup masuk akal karena billing Firestore berdasarkan pengunaan. Bayangkan berapa banyak operasi tulis yang terjadi bila saya memindahkan data 5 tahun dari database lama ke Firestore.

Firestore tidak mendukung aggregation

Ini berarti saya tidak bisa melakukan query yang melibatkan aggregation seperti SUM dan AVG di MySQL. Sebagai alternatifnya, saya harus menyimpan nilai agregasi dan memperbaharuinya secara manual, misalnya seperti pada contoh program di https://firebase.google.com/docs/firestore/solutions/aggregation. Sebenarnya ini bukanlah hal yang buruk pada aplikasi yang lebih banyak memiliki operasi baca ketimbang operasi tulis. Dengan menyimpan hasil agregasi secara manual di sebuah property, operasi baca bisa dilakukan dengan cepat.

Untuk memperbaharui nilai agregasi, saya harus berhati-hati karena operasi ini harus atomic. Bayangkan pada contoh dimana saya harus memperbaharui nilai total seperti berikut ini:

  1. Operasi 1: ====== Baca nilai total yang sudah ada (total = 10).
  2. Operasi 2: ==================== Baca nilai total yang sudah ada (total = 10).
  3. Operasi 2: ==================== Baca nilai delta yang baru (total = 10 dan delta = 2).
  4. Operasi 2: ==================== Perbaharui nilai total += delta (total = 12).
  5. Operasi 1: ====== Baca nilai delta yang baru (total = 10 dan delta = 5).
  6. Operasi 1: ====== Perbaharu nilai total += delta (total = 15).

Pada contoh di atas, operasi 1 dan operasi 2 berlangsung hampir bersamaan. Hasil akhirnya adalah nilai total = 15 padahal seharusnya total = 17. Hal ini terjadi karena selama operasi 1 berlangsung, sebenarnya nilai total sudah diperbaharui oleh operasi 2 tetapi tidak diketahui oleh operasi 1. Untuk mengatasi hal seperti ini, saya bisa menggunakan fitur transaction di Firestore. Sebuah transaction di Firestore harus diawali dengan operasi get() yang kemudian diikuti oleh operasi tulis seperti set(), update() dan delete(). Bila seandainya terdapat perubahan selama transaction dikerjakan, Firestore akan mengulangi seluruh operasi di transaction.

Sebuah document tunggal hanya boleh diperbaharui sekali per detik

Bila saya menggunakan metode agregasi secara manual dan perubahan agregasi tersebut ternyata perlu dilakukan lebih dari puluhan kali dalam satu detik, saya akan menemukan pesan kesalahan "Error: 10 ABORTED: Too much contention on these documents. Please try again.". Salah satu solusi untuk mengatasi ini adalah dengan menerapkan ‘sharding’ pada nilai yang di-agregasi seperti pada contoh kode program di https://firebase.google.com/docs/firestore/solutions/counters. Tapi ini membuat kode program lebih rumit dan mengurangi kinerja baca. Kesimpulannya: Bila aplikasi memiliki operasi tulis dengan intensitas tinggi dan melibatkan banyak agregasi, sebaiknya tidak menggunakan Firestore sebagai database.

Cloud Functions bisa saja dikerjakan lebih dari sekali untuk trigger yang sama

Firestore memiliki konsep trigger dimana kode program Cloud Functions bisa dikerjakan setiap kali dokumen dibuat, diubah, dan/atau dihapus. Bagian penting yang perlu diketahui (setidaknya selama Firestore masih beta saat ini) adalah sebuah event tunggal dapat menyebabkan Cloud Functions yang sama dikerjakan beberapa kali. Sebenarnya hal ini bukan hanya terjadi di Firestore, tetapi juga Cloud PubSub secara keseluruhan. Itu sebabnya sangat penting untuk membuat function yang bersifat idempotent. Pemanggilan function dengan parameter yang sama harus menghasilkan output yang sama. Sebuah function yang bersifat idempotent tidak akan membuat dua dokumen berbeda bila dipanggil dengan parameter yang sama sebanyak dua kali. Dengan demikian, ia aman dipakai sebagai trigger.

Walaupun demikian, terdapat kasus dimana membuat function yang idempotent menjadi lebih susah. Contohnya adalah function yang mengirim email melalui Mailgun setiap kali document dihapus. Tanpa menyimpan context.eventId terlebih dahulu, akan sulit bagi saya untuk menghindari mengirim email yang sama lebih dari sekali bila Firestore mengerjakan function lebih dari sekali untuk sebuah penghapusan yang sama.

Menghapus collection tidak termasuk subcollections

Pada Firestore, sebuah collection terdiri atas satu atau beberapa document. Selanjutnya, sebuah document dapat mengandung satu atau beberapa collection. Ini memungkinkan hierarki subcollection. Saat membaca document, nilai subcollection tidak akan ikut dibaca. Ini sangat berguna untuk meningkatkan kinerja baca. Sebagai alternatif subcollection, saya juga bisa menggunakan nested objects dengan meletakkan isi subcollection tersebut ke dalam document sebagai array. Nested object akan ikut dibaca sebagai bagian dari document dan jumlahnya terbatas.

Saat mengerjakan unit test, biasanya saya akan mengisi document beserta subcollection-nya. Begitu pengujian selesai, saya perlu membersihkan database. Ternyata, menghapus sebuah document tunggal memang mudah, tapi subcollection-nya masing-masing perlu dicari dan dihapus secara manual. Contoh kode program untuk melakukan penghapusan secara ‘rekursif’ tersebut dapat dilihat di https://firebase.google.com/docs/firestore/solutions/delete-collections.